Surat terbuka untuk calon gubernur Jawa Tengah.
Tahun ini adalah tahun pelaksanaan PILKADA Jawa Tengah. Saya secara pribadi tidak bisa ikut berkontribusi karena saya berdomisili di Jakarta meskipun asal saya dari Jawa Tengah. Apa yang saya tulis di sini adalah lebih kepada kepedulian dan barangkali kritik. Saya berasal dari Cilacap, tepatnya di suatu daerah yang bernama Kroya.
Apa yang saya tulis berlandas kepada apa yang real dan bisa dilihat. Lebaran 2007 kemarin saya pulang kebetulan memilih lewat jalur selatan. Meskipun melelahkan (23 jam perjalanan) saya cukup menikmati perjalanan, karena kondisi jalan relitif bagus. Tapi jalan bagus itu ternyata hanya saya nikmati sebelum masuk Jawa Tengah, karena setelah saya masuk Jawa Tengah terpaksa saya turunkan kecepatan dan meningkatkan pandangan ke jalan. Jalan-nya tidak rusak (untuk ukuran Indonesia) tapi jelek, tidak rata, sering tiba2 ketemu lubang, banyak tambalan yang tidak rata, dan ya kira2 begitulah kondisinya. Balik ke Jakarta saya lewat jalur pantura, kalo pantura saya secara pribadi belum pernah merasakan jalan yang bagus. Hanya saja terakhir saya lewat, jalan dalam keadaan baru diperbaiki tapi lubangnya sudah sangat banyak. Dalam keyakinan saya perbaikan jalan belum lebih dari satu bulan, tapi ternyata lubang jalan sudah sedemikian banyak..
Saya hanya terpikir, Indonesia dan Jawa Tengah sudah puluhan tahun membuat jalan tapi mengapa jalannya nggak bisa bagus, gampang rusak, kalo lubang nggak kira2 dsb. Kalo hanya karena terkena hujan terus bolong, jalannya dibuat dari tempe kah?… Untuk hal yang kasat mata, bisa dipelajari secar teknik, yaitu membuat jalan saja tidak bisa. Apa yang bisa saya harapkan dengan dengan tujuan yang tidak tampak seperti kesejahteraan rakyat, kesempatan kerja, kesempatan pendidikan, tingkat kecerdasan, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Saya hanya orang kecil yang jauh dari lingkaran kekuasaan, saya melihat nggak ada pengaruhnya pergantian gubernur terhadap lingkungan sekitar saya. Yang masih tertinggal tetap tertinggal, yang masih tidak berpendidikan masih sama (sejak saya masih tinggal di Jawa tengah). Sebagian dari masyarakat berhasil mengangkat tingkat kesejahteraannya itu karena usaha mereka sendiri yang luar biasa, kerja diluar negeri merantau, dsb. Dalam kondisi seperti itu pejabat pemerintahan justru lebih sebagai hambatan dengan pungutan2 atas usaha mereka.
Atas itu semua ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para calon gubernur, Apa hal "real" dan terukur yang akan sampeyan kejar ketika menjadi gubernur.
Kondisi masyarakat seperti apa yang ingin sampeyan ciptakan ketika menjadi gubernur.
Dan apa cita-cita sampeyan, barang kali cita-cita sampeyan nggak ada hubungannya dengan jadi gubernur, kalo kebetulan jadi bupati dan pengin jadi gubernur itu hanya memenuhi hasrat dan nafsu sampeyan yang tidak pernah puas.
Dan akhirnya buat para calon gubernur Jawa Tengah, selamat berkampanye, selama ber money politics, jangan lupa kalo kalah mengajukan gugatan ke MA, kalo masih gugatannya kalah jangan lupa menggalang masa untuk membuat kerusuhan, kalo masih kurang silakan memfitnah mati-matian terhadap gubernur yang terpilih.
Dan seandainya terpilih silakan mainkan uang rakyat; kalo ada masalah banjir, tanah longsor jangan lupa berkelit, banyak alasan, cari pembenaran sebanyak-banyak-nya; mencari kesempatan dalam kesempitan; mencari muka kepada pejabat pusat yang ke daerah. Dan lengkaplah sudah saya mendapatkan gubernur Jawa Tengah yang BANCI, JAIM, PENJILAT, dan BANGSAT..
Pajak penghasilan saya hasil kerja di Jakarta terkirim ke Jawa Tengah, agak sayang sebenarnya karena dari pajak itu saya bisa beli sepeda motor (yang sampai sekarang tidak terbeli). Dan saya tidak akan pernah rela jika pajak penghasilan saya harus saya berikan ke pejabat banci, penjilat dan bangsat..
